Ranah Istimewa Minangkabau
Di Jogja, orang-orang beranggapan bahwa perempuan Minangkabaulah yang akan meminang laki-laki terlebih dahulu karena sistem matrilinealnya.
Di Jogja, saya tahu bahwa Minangkabau punya sistem hukum mediasi untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, sehingga Pengadilan akan sepi kalau lembaga adat dapat berperan semaksimalnya.
Di Jogja saya tahu betapa tokoh- tokoh dan ulama-ulama Minangkabau di hargai, menjadi rujukan tokoh yang patut diteladani oleh setiap para penuntut ilmu, tak ada yang alfa tentang nama-nama. Minimal orang mengenal Bung Hatta dan Buya Hamka.
Di Jogja saya tahu betapa makanan Minangkabau itu disukai karena kenikmatan rasa dan kelezatannya, hingga orang berlomba-lomba mendirikan rumah makan padang. Tak peduli mahal sedikit harganya, yang penting siap saji, praktis dan makan berselera, walau ada juga yang tidak suka lantaran rasa pedas dan beban kolesterolnya.
Di Jogja saya tahu bahwa orang Minangkabau hampir menjadi pemilik usaha cendera mata sepanjang jalan malioboro dan berwirausaha dimana-dimana khususnya di setiap tempat wisata Indonesia.
Di Jogja saya sadar, bahwa kita sama-sama pernah menjadi Ibukota Negara Indonesia, pernah mengukir sejarah bersama dengan kekuatan akal dan fikiran putra-putra daerahnya dan tidak melulu dengan senjata.
Di Jogja saya tahu, bahwa banyak akademisi, politisi dan musisi dari Minangkabau yang bertebaran dimana-mana untuk memikirkan nasib anak cucu dan masa depan bangsanya.
Dan di Jogja juga saya jatuh hati pada Minangkabau, bukan karena kelebihan-kelebihannya. Melainkan karena falsafah hidup yang mengakar dan tak dapat dicabut sampai kapanpun "Adat basandi syara', syara' basandi Kitabullah" syara' mangato adat mamakai. Filosofi hidup yang mendalam dan diuraikan dengan pepatah petitih yang tertata.
Dan di Jogja pula saya banyak melihat hal yang negatif tentang Minangkabau di permukaan. Dan menjadi bagian dan tugas kita sebagai anak muda yang semangatnya masih bergelora.
Namun, lewat sepenggal kata sang pakar hukum tata negara, kita bisa melihat bagaimana pandangan orang luar terhadap ranah Istimewa dan mengukur sejauh mana pencapaian kita sebagai cucu pejuang bangsa atau patut saja dijadikan sebagai refleksi agar semakin kuat dalam bingkai persatuan, Insya Allah Minangkabau akan kembali mengukir sejarah yang baru dengan nuansa yang berbeda.

Wah. Sya padahal penasaran dengan paragraf pertamanya
BalasHapus