Kendalikan Baper di kalangan Akhwat.
Kendalikan Baper di kalangan Akhwat.
Baper atau bawa perasaan adalah sebuah fenomena yang marak dikalangan akhwat di abad 21 ini. Baper merupakan sebuah perasaan yang timbul dari dalam hati sebab dari tingkah laku manusia baik berupa; perhatian, perkataan, ataupun tindakan.
Baper menjadi suatu hal yang lumrah, khususnya dikalangan para akhwat, sebagai manusia yang memiliki intensitas perasaan yang lebih, wajar saja jika lebih mengedepankan rasa. Berbeda halnya dengan pria yang mengutamakan logika (rasional).
Ada kalanya wanita tersenyum bahkan tertawa ria ketika berkumpul dengan kedua orang tuanya. Ada kebahagian yang dirasakan ketika mendapatkan suatu hadiah. Begitu sebaliknya ada wanita yang justru terharu dan menangis ketika bertemu orang yang dicintainya. Beragam cara wanita untuk mengekspresikan perasaannya. Ya itulah rasa!
Tapi, bagaimana jika wanita mengolah rasa dalam persoalan percintaan. Tak dipungkiri, bahwa lingkungan ikhwah,akhwat khususnya justru menjadi sasaran virus-virus baper. Syukur jika ini dapat diatasi dengan cara yang positif, tapi bagaimana jika sebaliknya jika lingkungan akhwat justru menimbulkan reaksi yang terlihat negatif.
Manajemen cinta adalah solusi yang harus dipraktikan baik wanita ataupun pria. Karena kedua genre ini akan mengalami masa-masa indah dan berbunga. Bagaimana manajeman cinta ini bisa menjadi solusi di lingkungan ikhwah agar tidak mudah baper dalam persoalan percintaan?
Setiap makhluk ingin merasakan nikmatnya cinta dan kasih sayang. Setiap manusia membutuhkan perhatian dari pasangan. Tapi bagaimana jika persoalannya terletak pada diri seseorang yang lebih menonjolkan perasaan padahal bisa dengan sedikit logika.
Mencoba melihat sisi dunia, salah satunya media sosial. Media sosial merupakan salah satu alat komunikasi yang dapat menghubungkan antara satu dan yang lain tanpa bertemu secara langsung dengan tujuan mengefektifkan waktu. Media sosial hari ini menjadi tantangan besar bagi masyarakat muslim, lagi-lagi di lingkup ikhwah, karena perang yang dihadapi hari ini adalah perang media. Orang bisa keliru, dan saling menyalahkan hanya karena satu kata sebab komunikasi via media.
Dari media juga salah satu sebab adanya rasa Baper dikalangan akhwat, kenapa tidak? Adanya postingan2 foto, kata dan video yang justru mengarah adanya perasaan baper. ketika seorang membaca, melihatnya memunculkan perasaan ingin merasakan hal yang sama. Akibatnya muncul angan-angan yang terus membayangi pikiran. Sah saja jika hal ini dirasakan oleh orang-orang yang menikah, dia akan merespon dengan jawaban; "oh iya ya, benar sekali, nikmat ya pacaran setelah menikah, alhamdulillah akhirnya punya pasangan" ini justru dianjurkan untuk dapat mengelola managemen cintanya.
Tapi, bagaimana jika hal ini terjadi dikalangan akhwat, ini fakta yang benar-benar miris. Kebanyakan mereka lupa posisinya sebagai wanita, sebagai madrasatul ula, pusat peradaban, dan ditangannya juga akan berlangsung sebuah kehidupan yang menentukan kemajuan sebuah agama dan bangsa. Namun, sejauh mana sosok almadrastul ula ini mempersiapkannya?
Saya akan mulai melihat dari sisi pendidikan. Pendidikan tinggi menjadi salah satu pendidikan formal yang dapat membantumu untuk mempersiapkan bekal nantinya, Allahpun menjanjikan hamba-hambanya yang menyibukkan diri dalam mencari Ilmu, akan Allah akan angkat derajatnya. Disini kita belajar tentang managemen waktu sehingga selalu digunakan dengan hal-hal yang berbau pengetahuan, pelaksanaan sosial yang baik dengan masyarakat kampus, problem solving jika ada masalah dan tumpukan masalah yang menuntut berfikir lebih solutif, yang lebih urgent lagi sisi tanggung jawab karena mampu menuntaskan harapan kedua orang tua.
"Ketahuilah, bahwa tidak ada yang dapat ditinggalkan orang tuamu, kecuali Ilmu, maka apapun akan dilakukan asalkan mereka meninggalkan anak dalam kondisi berilmu. Karena hanya ilmulah yang dapat menyelamatkan anak-anaknya kelak.
Perlu kita evaluasi kembali, apakah hal ini telah kita lakukan dengan baik. Ilmu tidak hanya melulu soal teori, tapi waktu yang dimanfaatkan dengan hal-hal yang menjadikanmu lebih baik, lebih positif, dan semakin meningkatkan kemanan itu juga Ilmu.
Jangan pilih-pilih dalam menuntut ilmu, kalaupun ilmu tersebut tidak meningkatkan bidang pendidikanmu, bisa jadi suatu saat lebih membantu dan dibutuhkan, tetap berusaha untuk semakin menguasai bidang yang digeluti. Misalnya: kamu dari jurusan sosial, setidaknya kamu tahu sedikit tentang dunia biologi ataupun kesehatan karena segala siklus itu terjadi dalam setiap 24 jam kehidupan kita. Sejatinya, kita wajib mengetahui segalanya. Tapi memang manusia yang memiliki usaha, waktu dan semangat yang terbatas sehingga tak cukup untuk menampung Ilmu yang bertebaran di muka Bumi.
Tanamkanlah bahwa pendidikan tinggi bukan untuk tujuan pekerjaan, karir ataupun untuk jabatan tertentu jadikan niat utamamu untuk menuntut ilmu, jika demikian Allah lah yang akan memberikan pekerjaan yang layak untukmu.
Kembali melihat persoalan baper tadi, jika para wanita semakin sibuk dengan kebaperan. Maka sukseslah peran media yang diciptakan yahudi untuk melalaikan umat muslim. Meskipun yang disosialkan adalah hal2 dan kata-kata penuh hikmah.
Baperlah pada batasannya, hanya dirimu sendiri yang tau, tak perlu engkau beritahu pada media, tak perlu engkau ceritakan kesemua temanmu, dan cukuplah baper itu urusanmu dengan Allah. Jika baper itu sebuah pertanda kesiapan untuk menyelamatkanmu, bisa jadi waktu itu telah datang untukmu. Tapi jika belum, mari merevolusi diri untuk kembali melihat dari berbagai pandangan, sejauh apa bahaya baper ini mengganggu waktu-waktumu. Masih banyak hal yang positif yang dapat meningkatkan derajatmu disisi Allah. Pelajarilah segala bidang kehidupan, karena waktu tidak akan berputar kebelakang.
Jogja,26 Februari 2017
By: Aisyah Chairil
Baper atau bawa perasaan adalah sebuah fenomena yang marak dikalangan akhwat di abad 21 ini. Baper merupakan sebuah perasaan yang timbul dari dalam hati sebab dari tingkah laku manusia baik berupa; perhatian, perkataan, ataupun tindakan.
Baper menjadi suatu hal yang lumrah, khususnya dikalangan para akhwat, sebagai manusia yang memiliki intensitas perasaan yang lebih, wajar saja jika lebih mengedepankan rasa. Berbeda halnya dengan pria yang mengutamakan logika (rasional).
Ada kalanya wanita tersenyum bahkan tertawa ria ketika berkumpul dengan kedua orang tuanya. Ada kebahagian yang dirasakan ketika mendapatkan suatu hadiah. Begitu sebaliknya ada wanita yang justru terharu dan menangis ketika bertemu orang yang dicintainya. Beragam cara wanita untuk mengekspresikan perasaannya. Ya itulah rasa!
Tapi, bagaimana jika wanita mengolah rasa dalam persoalan percintaan. Tak dipungkiri, bahwa lingkungan ikhwah,akhwat khususnya justru menjadi sasaran virus-virus baper. Syukur jika ini dapat diatasi dengan cara yang positif, tapi bagaimana jika sebaliknya jika lingkungan akhwat justru menimbulkan reaksi yang terlihat negatif.
Manajemen cinta adalah solusi yang harus dipraktikan baik wanita ataupun pria. Karena kedua genre ini akan mengalami masa-masa indah dan berbunga. Bagaimana manajeman cinta ini bisa menjadi solusi di lingkungan ikhwah agar tidak mudah baper dalam persoalan percintaan?
Setiap makhluk ingin merasakan nikmatnya cinta dan kasih sayang. Setiap manusia membutuhkan perhatian dari pasangan. Tapi bagaimana jika persoalannya terletak pada diri seseorang yang lebih menonjolkan perasaan padahal bisa dengan sedikit logika.
Mencoba melihat sisi dunia, salah satunya media sosial. Media sosial merupakan salah satu alat komunikasi yang dapat menghubungkan antara satu dan yang lain tanpa bertemu secara langsung dengan tujuan mengefektifkan waktu. Media sosial hari ini menjadi tantangan besar bagi masyarakat muslim, lagi-lagi di lingkup ikhwah, karena perang yang dihadapi hari ini adalah perang media. Orang bisa keliru, dan saling menyalahkan hanya karena satu kata sebab komunikasi via media.
Dari media juga salah satu sebab adanya rasa Baper dikalangan akhwat, kenapa tidak? Adanya postingan2 foto, kata dan video yang justru mengarah adanya perasaan baper. ketika seorang membaca, melihatnya memunculkan perasaan ingin merasakan hal yang sama. Akibatnya muncul angan-angan yang terus membayangi pikiran. Sah saja jika hal ini dirasakan oleh orang-orang yang menikah, dia akan merespon dengan jawaban; "oh iya ya, benar sekali, nikmat ya pacaran setelah menikah, alhamdulillah akhirnya punya pasangan" ini justru dianjurkan untuk dapat mengelola managemen cintanya.
Tapi, bagaimana jika hal ini terjadi dikalangan akhwat, ini fakta yang benar-benar miris. Kebanyakan mereka lupa posisinya sebagai wanita, sebagai madrasatul ula, pusat peradaban, dan ditangannya juga akan berlangsung sebuah kehidupan yang menentukan kemajuan sebuah agama dan bangsa. Namun, sejauh mana sosok almadrastul ula ini mempersiapkannya?
Saya akan mulai melihat dari sisi pendidikan. Pendidikan tinggi menjadi salah satu pendidikan formal yang dapat membantumu untuk mempersiapkan bekal nantinya, Allahpun menjanjikan hamba-hambanya yang menyibukkan diri dalam mencari Ilmu, akan Allah akan angkat derajatnya. Disini kita belajar tentang managemen waktu sehingga selalu digunakan dengan hal-hal yang berbau pengetahuan, pelaksanaan sosial yang baik dengan masyarakat kampus, problem solving jika ada masalah dan tumpukan masalah yang menuntut berfikir lebih solutif, yang lebih urgent lagi sisi tanggung jawab karena mampu menuntaskan harapan kedua orang tua.
"Ketahuilah, bahwa tidak ada yang dapat ditinggalkan orang tuamu, kecuali Ilmu, maka apapun akan dilakukan asalkan mereka meninggalkan anak dalam kondisi berilmu. Karena hanya ilmulah yang dapat menyelamatkan anak-anaknya kelak.
Perlu kita evaluasi kembali, apakah hal ini telah kita lakukan dengan baik. Ilmu tidak hanya melulu soal teori, tapi waktu yang dimanfaatkan dengan hal-hal yang menjadikanmu lebih baik, lebih positif, dan semakin meningkatkan kemanan itu juga Ilmu.
Jangan pilih-pilih dalam menuntut ilmu, kalaupun ilmu tersebut tidak meningkatkan bidang pendidikanmu, bisa jadi suatu saat lebih membantu dan dibutuhkan, tetap berusaha untuk semakin menguasai bidang yang digeluti. Misalnya: kamu dari jurusan sosial, setidaknya kamu tahu sedikit tentang dunia biologi ataupun kesehatan karena segala siklus itu terjadi dalam setiap 24 jam kehidupan kita. Sejatinya, kita wajib mengetahui segalanya. Tapi memang manusia yang memiliki usaha, waktu dan semangat yang terbatas sehingga tak cukup untuk menampung Ilmu yang bertebaran di muka Bumi.
Tanamkanlah bahwa pendidikan tinggi bukan untuk tujuan pekerjaan, karir ataupun untuk jabatan tertentu jadikan niat utamamu untuk menuntut ilmu, jika demikian Allah lah yang akan memberikan pekerjaan yang layak untukmu.
Kembali melihat persoalan baper tadi, jika para wanita semakin sibuk dengan kebaperan. Maka sukseslah peran media yang diciptakan yahudi untuk melalaikan umat muslim. Meskipun yang disosialkan adalah hal2 dan kata-kata penuh hikmah.
Baperlah pada batasannya, hanya dirimu sendiri yang tau, tak perlu engkau beritahu pada media, tak perlu engkau ceritakan kesemua temanmu, dan cukuplah baper itu urusanmu dengan Allah. Jika baper itu sebuah pertanda kesiapan untuk menyelamatkanmu, bisa jadi waktu itu telah datang untukmu. Tapi jika belum, mari merevolusi diri untuk kembali melihat dari berbagai pandangan, sejauh apa bahaya baper ini mengganggu waktu-waktumu. Masih banyak hal yang positif yang dapat meningkatkan derajatmu disisi Allah. Pelajarilah segala bidang kehidupan, karena waktu tidak akan berputar kebelakang.
Jogja,26 Februari 2017
By: Aisyah Chairil

Komentar
Posting Komentar