Cerita istri pengendara becak
Menjelang senja tadi ada seorang ibu-ibu penjual bensin eceran. Saya duduk disamping beliau sembari menunggu seseorang. Ibu asli Jogja? Tanyaku pada si ibu. Tidak mba, saya asli Solo. Sudah sejak tahun 70-an tinggal di Jogja, memulai hidupnya dengan usaha menjual kue di pasar, apapun pekerjaan akan saya lakukan selagi bisa makan. Tertarik mendengar kisah kehidupan beliau, saya mencoba menggali dengan berbagai pertanyaan. Beliau tumpahlah segala suka duka dan pengalaman hidup selama di Jogja.
Mbak, saya tinggal di Jogja dulu ngekos, suami saya jual bensin eceran dan tukang tambal ban saya bantu suami jualan soto atau kue-kue basah di pasar. Dulu, rame sekali mahasiswa yang belanja ke tempat saya, tapi sekarang sudah jauh berubah. Lalu, sekarang ibu kerjanya apa? Saya jadi karyawan disalah satu toko kain mbak kadang-kadang masih jualan juga.
Tiba-tiba beliau berkata yang sedikit tidak senang juga telinga ini mendengarkan, tapi apa daya ini adalah fakta: saya ini bodoh mbak, cuma tamat SD gak tau apa-apa. Jadi banyak saya yang gak tau saya sering gak ngerti, tapi anak saya Alhamdulillah dua duanya tamat SMK dan sudah bekerja. Jleb sekali mendengar kata ibuk ini, buk di tahun 70-an tamat SD itu sudah luar biasa bagi seorang perempuan. Anak ibu yang jenjang pendidikannya lebih tinggi dari ibu menandakan ibu punya harapan agar anak-anak ibu lebih baik. Saya salut sama ibu ini. Begitulah kira-kira pengalaman pribadi beliau.
Tak lama kemudian ibu itu bercerita dan mendekat, meneruskan ceritanya. Mbak, dulu warung saya rame mahasiswa yang beli, terkenal sekali, bahkan tukang becak habis narik selalu makan di tempat saya. Cuma sekarang sudah tak seperti dulu e mbak, jangan kan untuk makan yang naik becak aja susah mau nyari dimana. Bapak-bapak yang bawa becak banyak yang pulang ke kampungnya karena tidak lagi menghasilkan. Dulu mereka dari wonosari, klaten, bantul dan daerah dari luar daerah jogja bahkan berburu melakukan pekerjaan itu, karena menjadi pekerjaan yang lumayan di tempat-tempat wisata.
Dulu tukang becak bisa menabung dengan penghasilannya mbak, sekarang? Untuk bisa makan dan bertahan hidup saja susah. Orang sekarang lebih banyak naik gojek dan grab, selain harganya lebih murah juga cepat dan 5 anak kost bisa bayar hanya 10 ribu mbak. Lah,tukang becak kan gak bisa dibayar 2.000/orang yang hitungannya sama kayak grab. Es teh aja belum dapat untuk minum mereka, karena mereka pasti juga capek. Dan karena itu juga banyak akhirnya yang tidak mengayuh becak lagi. Jalan sudah mulai sepi dari becak sekarang mbak, beda sekali dengan dulu. Mangkanya saya suruh anak saya didik cucuk saya yang bener biar nasibnya gak seperti kami ini.
Entahlah, bagaimana akan berkata-berkata. Pelajaran-pelajaran hidup seperti ini yang sebenarnya disebut sebagai guru. Aku kembali refleksi kebelakang, apa pernah aku PHPin tukang becak? Apa pernah aku mnyakiti hati ibu-ibu penjual makanan? Apa pernah diri ini tidak ikut merasakan kehidupan mereka yang berada di garis down. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan khilaf selama memijak tanah negeri kerajaan ini.
Mbak, saya tinggal di Jogja dulu ngekos, suami saya jual bensin eceran dan tukang tambal ban saya bantu suami jualan soto atau kue-kue basah di pasar. Dulu, rame sekali mahasiswa yang belanja ke tempat saya, tapi sekarang sudah jauh berubah. Lalu, sekarang ibu kerjanya apa? Saya jadi karyawan disalah satu toko kain mbak kadang-kadang masih jualan juga.
Tiba-tiba beliau berkata yang sedikit tidak senang juga telinga ini mendengarkan, tapi apa daya ini adalah fakta: saya ini bodoh mbak, cuma tamat SD gak tau apa-apa. Jadi banyak saya yang gak tau saya sering gak ngerti, tapi anak saya Alhamdulillah dua duanya tamat SMK dan sudah bekerja. Jleb sekali mendengar kata ibuk ini, buk di tahun 70-an tamat SD itu sudah luar biasa bagi seorang perempuan. Anak ibu yang jenjang pendidikannya lebih tinggi dari ibu menandakan ibu punya harapan agar anak-anak ibu lebih baik. Saya salut sama ibu ini. Begitulah kira-kira pengalaman pribadi beliau.
Tak lama kemudian ibu itu bercerita dan mendekat, meneruskan ceritanya. Mbak, dulu warung saya rame mahasiswa yang beli, terkenal sekali, bahkan tukang becak habis narik selalu makan di tempat saya. Cuma sekarang sudah tak seperti dulu e mbak, jangan kan untuk makan yang naik becak aja susah mau nyari dimana. Bapak-bapak yang bawa becak banyak yang pulang ke kampungnya karena tidak lagi menghasilkan. Dulu mereka dari wonosari, klaten, bantul dan daerah dari luar daerah jogja bahkan berburu melakukan pekerjaan itu, karena menjadi pekerjaan yang lumayan di tempat-tempat wisata.
Dulu tukang becak bisa menabung dengan penghasilannya mbak, sekarang? Untuk bisa makan dan bertahan hidup saja susah. Orang sekarang lebih banyak naik gojek dan grab, selain harganya lebih murah juga cepat dan 5 anak kost bisa bayar hanya 10 ribu mbak. Lah,tukang becak kan gak bisa dibayar 2.000/orang yang hitungannya sama kayak grab. Es teh aja belum dapat untuk minum mereka, karena mereka pasti juga capek. Dan karena itu juga banyak akhirnya yang tidak mengayuh becak lagi. Jalan sudah mulai sepi dari becak sekarang mbak, beda sekali dengan dulu. Mangkanya saya suruh anak saya didik cucuk saya yang bener biar nasibnya gak seperti kami ini.
Entahlah, bagaimana akan berkata-berkata. Pelajaran-pelajaran hidup seperti ini yang sebenarnya disebut sebagai guru. Aku kembali refleksi kebelakang, apa pernah aku PHPin tukang becak? Apa pernah aku mnyakiti hati ibu-ibu penjual makanan? Apa pernah diri ini tidak ikut merasakan kehidupan mereka yang berada di garis down. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan khilaf selama memijak tanah negeri kerajaan ini.

Komentar
Posting Komentar