Bulan Alquran: sudahkah kita memaknainya?



: Aisyah Chairil

Alquran sebagai pedoman hidup seluruh umat manusia telah Allah turunkan pada 17 Ramadhan, dan setiap tanggal tersebut umat Islam  memperingati sebagai malam atau hari Nuzulul Quran. Sebagaimana Q.S Albaqarah:185 yang artinya:

_Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur_

Selain itu, diturunkannya Q.S Al 'Alaq 1-5'adalah wahyu pertama dan bukti autentik dari Allah perihal perintah membaca, atau dalam kongkow pelajar era millenial kini di sebut "Literasi". Yakni budaya yang pekat dengan aktifitas membaca dan menulis. Rupanya titah agung dari Pemilik alam semesta  telah lebih dulu mendeklarasikan agar manusia hidup dengan membaca.

Perintah pertama soal membaca tersebut Allah  lugaskan kepada Rasulullah Muhammad saw. Perintah ini  sebagai lampu kuning, agar kita tidak menjadi manusia yang gamang di dunia dan senantiasa berhati-hati dalam melihat peristiwa, tidak mudah menjudge manusia, terprovokasi informasi dan berita yang belum jelas kebenarannya, apalagi sampai terjebak persiteruan yang tiada damainya. Membaca adalah sebuah sikap kehati-hatian dalam jiwa untuk kemudian dipelajari, diamalkan dan disebarkan kepada seluruh manusia. Sebab dengan membaca dan melalui bahasalah kita mampu mengenalkan sebuah kebenaran.

Ajaran Islam sebagai agama paripurna, ajaran yang menjadi Rahmat bagi seluruh alam.  Sebagai manifestasi tugas kekhalifahan, agar manisnya Islam sebagai sumber ajaran dan inspirasi ilmu pengetahuan seharusnya dapat tersampaikan kepada alam semesta, diteladani dan diamalkan, agar tidak menjelma pada penganut Islam saja namun juga mampu menembus relung terdalam manusia. Sehingga yang muslim mendakwah dan memuslimkan yang kafir, bukan sebaliknya justru mengkafirkan yang muslim, inilah dakwah yang sejatinya direalisasikan, bukan dengan saling adu domba dalam sebuah perpecahan apalagi sudah merasa paling benar.

 Jelas, sejarah pernah mengabadikan bagaimana rekam jejak para Ilmuwan Islam yang patut dijadikan teladan anak milenial,  menjadi aktor peradaban ilmu pengetahuan dan memulai semua itu dengan perjuangan yang sangat berat, bahkan harus rela menjadi jomblo sampai mati demi menyelesaikan bacaan dan tulisannya. Membaca dan menulis telah menjadi rutinitas Imam Abu Hanifah, Ibnu sina, Ibnu Rusyd, Imam malik, Imam Syafi'i, buya hamka, natsir hatta sengan semua bacaan-bacaannya. 2/3 dari itu semua, adab dijadikan sebagai lumbung pengetahuan manusia.

Selain itu perjuangan dengan jaminan nyawa pernah dilakukan oleh para sahabat pada bulan ramadhan, demi membela agama dan mempertahankan sebuah kebenaran dalam negara. Namun pada saat ini masih mampu menjaga iman dan akal sehat sehingga kejayaan Islam itu dapat dipertahankan. Hari ini, apakah perjuangan yang kita lakukan sudah pada niat dan cara yang patut dan benar menurut ajaran dan Norma dalam agama, kalau tidak membuat orang akan semakin meninggalkan Islam maka silahkan dilanjutkan. Tetapi jika yang terjadi sebaliknya, umat Islam meninggalkan agama demi mengejar kepentingan politik yang justru merugikan kemaslahatan manusia, maka sama kejamnya dengan pemimpin yang tidak percaya pada Tuhannya.

" Iqro, Iqro' bismirobbikalladzi kholaq. ( Bacalah, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakanmu).  Islam menunjukkan betapa pentingnya membaca, membaca atas nama Allah yang telah menciptakan kita sebagai makhluk. Artinya, nuzulul Quran bukan hanya sebuah peringatan dan pengingat hari Alquran diturunkan, tapi sebagai bulan ampunan, bulan muhasabah dan bulan berbenah. Sekuat apa Firman Allah dalam Alquran  terimani? Apa jangan-jangan kita terjebak dengan kebiasaan yang menjadikan Alquran sebagai bacaan pelengkap seusai sholat, tuntutan situasi yang hanya dibaca saat pembukaan ceremonial acara? sudahkah ayat-ayatnya menambahkan sedikit saja keimanan di dada atau justru sebaliknya kita semakin jauh dari Mushaf abadi ini? mengabaikannya dan membiarkan lama-lama hati ini mati sebab tak mampu menahan dahaga yang haus dari tetesan penawar syairnya.

Nuzulul Quran juga sebagai pertanda bahwa kenikmatan dan kebahagian hidup di dunia ini tinggal dinikmati, bahkan janji Allah sendiri yang akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dan beriman beberapa derajat. Apakah ini hanya sekedar janji yang diketahui secara bolak balik lalu kita gagal memahami maknanya? Belum terlambat untuk kita memulainya,  mungkin masih ada beberapa waktu untuk kita menjemput dan meneruskan  kembali cita-cita mulia ini sebelum dipertanggungjawabkan dihadapan Pemilik Alquran kelak.

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang sebetulnya belum selesai kita jawab. Artinya saya dan kita bersama perlu belajar kembali tentang titah membaca, sejauh apa diri sudah mengamalkan agar kita tak terjebak pada istilah merasa paling pintar dan paling beriman sebab Iblis tidak akan pernah lelah untuk menyesatkan anak dan cucu Adam. Naudzubillahi min dzalik, semoga Allah mengampuni dosa kita.

Membacapun bagian dari penawar kehidupan, karena menambah wawasan yang awalnya tidak tahu lantaran menjadi tahu, dalam keadaan iman turun dengan membaca iman bisa bertambah.  Membaca tanda-tanda, membaca fenomena sosial, membaca fakta dan kejadian, membaca hikmah-hikmah kehidupan, membaca masa lalu, dan  juga membaca teman yang akan menemani kita menulis di masa depan.



Jogja, 17 Ramadhan 1440 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kendalikan Baper di kalangan Akhwat.

JAMAYYKA

Jasa seorang Guru Ngaji.