Menentukan pilihan: pertimbangan akal dan keyakinan qalbu!
Menentukan pilihan: pertimbangan akal dan keyakinan qalbu!
Setiap murid ingin dididik oleh guru yang cerdik, begitupula setiap rakyat ingin dipimpin oleh pemimpin yang tidak hanya berjiwa prophetic namun juga kharismatik. Begitu pula seorang insan, menginginkan teman, sahabat bahkan pasangan yang terbaik bukan? Nah :)
Berbeda dalam penilaian itu sah saja, sebab manusia di beri kemampuan nalar yang berbeda-beda. Namun, setidaknya antara akal dan qalbu tidak beradu, sebab keyakinan akan muncul jika keduanya menyatu. Jika akal berkata coklat itu manis, maka qalbu mengatakan hal yang sama dan tidak menyatakan bahwa coklat itu pahit. Jika hal ini terjadi, maka antara akal dan qalbu maka ada benang kusut yang harus diuraikan satu-satu.
Berbagai postingan, broadcast, komentar dan retweet para netizen membuat para warga media sosial saling bersahutan di dunia maya pasca debat kedua kontestan yang jika dinilai punya kelebihan dan kekurangan di setiap masing-masingnya, lebih miris bila yang diserang bukan argumentasi dan ide yang keluar dari kepala lawan bicara tapi serangan terhadap mentaliti atau personal orangnya. Bahaya? Jelas, karena ini dapat membentuk sebuah kebiasaan dengan pola-pola yang akhirnya terkonstruksi menjadi sebuah kebudayaan dan tradisi. Jadi tugas kita, menimbang porsi maslahat yang akan hadir kedepannya. Salah satu mutiara usul fiqh : "Kemaslahatan umum lebih didahulukan dari kemaslahatan khusus"
Flashback pada sejarah lama, dulu jejeran founding father berdebat sangat kuat dan dengan kritis dan begitu tajamnya. Namun usai berdebat mereka masih bisa duduk, berdampingan, bahkan ngopy dan tertawa bersama. Seolah terlihat betapa hikmah dan kebijaksanaan terpupuk pada personalitynya. Karena yang dicari bukan kepastian dari jawaban siapa dan apanya, tetapi bagaimana dan mengapanya sehingga apa dan siapa itulah yang layak dan pantas menjalankan pada akhirnya.
Jika kita tinjau di lapangan dunia nyata, benar bahwa setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Jika ingin mengenal dinamika di semua masa maka jadilah lentur dan dinamis. Artinya kita tidak kaku untuk merespon isu yang terjadi hari ini, kita perlu membuka sejarah yang pernah digores oleh para mantan, mantan-mantan pejuang dan pemikir negeri ini. Agar apa yang kita fikirkan dan kita putuskan adalah untuk meneruskan bangunan yang sudah ada. Jika bangunan itu sempat retak, apalagi roboh janganlah dianggap sebagai kelalaian personality sang buruh bangunan, maka perlu dipertanyakan pula bentuk perhatian dari sang arsitek, manager bahkan segala yang terlibat dalam sebuah tim, termasuk security dan logistik untuk mengevaluasi. Apakah sudah dipastikan, bahwa sang buruh terjamin perutnya dan terselamatkan dari rasa lapar?
Setiap peristiwa akan menjadi sejarah, dan sejarah itu jangan sampai terlupakan!
Ir.Soekarno.dalam jargon Jas Merah!
Dunia nyata tidak setragis dan sekejam itu juga, memang media punya zat adiktif yang dapat memicu berbagai problematika. Maka hati-hati, jangan sampai ketikan kata justru memancing malapetaka yang memicu konsistensi umat beragama sampai dalam butir-butir dosa.
April bulan depan, semua warga negara Indonesia tentu menunjukkan ekspresi kecintaan terhadap bangsanya, melalui one vote pada pemilu 17 April mendatang adalah salah satu wujud dari Indonesia sebagai negara bangsa. Karena bukan Indonesia namanya jika tidak berbeda-beda sebagaimana pita cantiknya "Bhineka Tunggal Ika".
Namun, pesan konstitusional yang harus kita sepakati bersama. Bahwa setiap rakyat yang menetap di suatu negeri ia punya kebebasan dalam menggunakan pilihan berdasarkan pertimbangan akalnya (hurriyatul aql). Semoga akal ini berangkat dari pilihan hati dan bukan ikut-ikutan politic delusi. Kalau perlu Istikharah sebagai ikhtiyar (usaha untuk memilih) jika kebingungan masih menghampiri dan membingungkan akal hati kita masing-masing.
Tuhan memberikan sebuah ultimatum bernama kehendak, sebagai instrumen untuk menafsirkan pertimbangan akal dan Qalbu untuk diwujudkan sebagai aksi dalam sikap atau perbuatan yang nyata. Karena ia hadir di muka bumi untuk memainkan perannya.
Selamat berperan, menentukan dan meneguhkan pilihan!
Setiap murid ingin dididik oleh guru yang cerdik, begitupula setiap rakyat ingin dipimpin oleh pemimpin yang tidak hanya berjiwa prophetic namun juga kharismatik. Begitu pula seorang insan, menginginkan teman, sahabat bahkan pasangan yang terbaik bukan? Nah :)
Berbeda dalam penilaian itu sah saja, sebab manusia di beri kemampuan nalar yang berbeda-beda. Namun, setidaknya antara akal dan qalbu tidak beradu, sebab keyakinan akan muncul jika keduanya menyatu. Jika akal berkata coklat itu manis, maka qalbu mengatakan hal yang sama dan tidak menyatakan bahwa coklat itu pahit. Jika hal ini terjadi, maka antara akal dan qalbu maka ada benang kusut yang harus diuraikan satu-satu.
Berbagai postingan, broadcast, komentar dan retweet para netizen membuat para warga media sosial saling bersahutan di dunia maya pasca debat kedua kontestan yang jika dinilai punya kelebihan dan kekurangan di setiap masing-masingnya, lebih miris bila yang diserang bukan argumentasi dan ide yang keluar dari kepala lawan bicara tapi serangan terhadap mentaliti atau personal orangnya. Bahaya? Jelas, karena ini dapat membentuk sebuah kebiasaan dengan pola-pola yang akhirnya terkonstruksi menjadi sebuah kebudayaan dan tradisi. Jadi tugas kita, menimbang porsi maslahat yang akan hadir kedepannya. Salah satu mutiara usul fiqh : "Kemaslahatan umum lebih didahulukan dari kemaslahatan khusus"
Flashback pada sejarah lama, dulu jejeran founding father berdebat sangat kuat dan dengan kritis dan begitu tajamnya. Namun usai berdebat mereka masih bisa duduk, berdampingan, bahkan ngopy dan tertawa bersama. Seolah terlihat betapa hikmah dan kebijaksanaan terpupuk pada personalitynya. Karena yang dicari bukan kepastian dari jawaban siapa dan apanya, tetapi bagaimana dan mengapanya sehingga apa dan siapa itulah yang layak dan pantas menjalankan pada akhirnya.
Jika kita tinjau di lapangan dunia nyata, benar bahwa setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Jika ingin mengenal dinamika di semua masa maka jadilah lentur dan dinamis. Artinya kita tidak kaku untuk merespon isu yang terjadi hari ini, kita perlu membuka sejarah yang pernah digores oleh para mantan, mantan-mantan pejuang dan pemikir negeri ini. Agar apa yang kita fikirkan dan kita putuskan adalah untuk meneruskan bangunan yang sudah ada. Jika bangunan itu sempat retak, apalagi roboh janganlah dianggap sebagai kelalaian personality sang buruh bangunan, maka perlu dipertanyakan pula bentuk perhatian dari sang arsitek, manager bahkan segala yang terlibat dalam sebuah tim, termasuk security dan logistik untuk mengevaluasi. Apakah sudah dipastikan, bahwa sang buruh terjamin perutnya dan terselamatkan dari rasa lapar?
Setiap peristiwa akan menjadi sejarah, dan sejarah itu jangan sampai terlupakan!
Ir.Soekarno.dalam jargon Jas Merah!
Dunia nyata tidak setragis dan sekejam itu juga, memang media punya zat adiktif yang dapat memicu berbagai problematika. Maka hati-hati, jangan sampai ketikan kata justru memancing malapetaka yang memicu konsistensi umat beragama sampai dalam butir-butir dosa.
April bulan depan, semua warga negara Indonesia tentu menunjukkan ekspresi kecintaan terhadap bangsanya, melalui one vote pada pemilu 17 April mendatang adalah salah satu wujud dari Indonesia sebagai negara bangsa. Karena bukan Indonesia namanya jika tidak berbeda-beda sebagaimana pita cantiknya "Bhineka Tunggal Ika".
Namun, pesan konstitusional yang harus kita sepakati bersama. Bahwa setiap rakyat yang menetap di suatu negeri ia punya kebebasan dalam menggunakan pilihan berdasarkan pertimbangan akalnya (hurriyatul aql). Semoga akal ini berangkat dari pilihan hati dan bukan ikut-ikutan politic delusi. Kalau perlu Istikharah sebagai ikhtiyar (usaha untuk memilih) jika kebingungan masih menghampiri dan membingungkan akal hati kita masing-masing.
Tuhan memberikan sebuah ultimatum bernama kehendak, sebagai instrumen untuk menafsirkan pertimbangan akal dan Qalbu untuk diwujudkan sebagai aksi dalam sikap atau perbuatan yang nyata. Karena ia hadir di muka bumi untuk memainkan perannya.
Selamat berperan, menentukan dan meneguhkan pilihan!
Komentar
Posting Komentar