Ukhuwah 24 jam
Oleh: Aisyah Chairil*
Dua orang aktivis Pelajar Malaysia melakukan sebuah kunjungan Ilmiah ke Indonesia pada Sabtu- Rabu lalu ( 21-25 Oktober-2017 ), tepatnya dikota pelajar D.I Yogyakarta. Mereka terdiri dari dua orang aktivis pelajar yang juga berkecimpung di sebuah Lembaga NGO, organisasi yang bergerak dalam bidang "Humanity" bernama GSM dan keberadaannya sangat memberikan dampak kemaslahatan bagi Dunia, khususnya Warga Negara Malaysia sendiri.
Selama di Yogyakarta, mereka melakukan kunjungan khusus ke Dewan Dakwah Indonesia sebagai suatu organisasi Dakwah tertua yang ada di Indonesia, maksud kedatangan mereka adalah untuk wawancara sekaligus mendiskusikan peristiwa Gempa Jogja yang terjadi pada Tahun 2008. Mereka Bertemu beberapa ustadz dan para sahabat muslim yang ada di Dewan Dakwah indonesia.
Kurang lebih lima hari, meneliti hal-hal yang berbau Kemanusiaan sebagai tugas kerja dari NGO sendiri, perjalanan Ilmiah ini juga ditujukan pada Komunitas Pelajar Islam Indonesia (PII) yang ada di Yogyakarta. Ini merupakan kali kedua kedatangan mereka untuk terus menjalin silaturrahmi dengan PII yang telah dimulai oleh generasi sebelumnya.
Beberapa sahabat dari Pengurus Wilayah PII sempat menemani mereka sebelum kepulangan ke Indonesia, destinasi yang menjadi sorotan para aktivis ini antara lain adalah: Taman Sambi sari, Keraton Yogyakarta, Alun-Alun Kidul, Malioboro, beberapa toko buku: Sosial Agency, Shopping dan Gramedia, Pabrik Bakpia Pathok, dan Ambarukmo Plaza Mall dan beberapa wisata lainnya.
Yang lebih menarik kemudian adalah kami menyempatkan waktu untuk berdiskusi ringan dengan salah seorang aktivis GSM, Kak Fadhillah Ibrahim. Beliau merupakan Alumni Fakultas Ushuluddin International Islamic University of Malaysia. Beliau menyampaikan rasa senang terhadap Komunitas Pelajar seperti PII yang ada di Indonesia karena masih eksis sampai sekarang, beberapa pesan beliau selipkan kepada kami melalui diskusi malam itu, meskipun dengan kondisi tubuh yang minta untuk segera dibaringkan dan bola mata yang ingin segera ditidurkan. Namun, Melihat semangat kak fadhillah untuk berbagi dalam diskusi ini, membuat kami tertantang dan tidak mau melewatkan sedetikpun Ilmu dan pengalaman yang dibagikan.
Decak kagum kami kian menjadi, usai mendengar kak fadhillah bercakap dalam logat malaysianya, bahwa kami melakukan diskusi ini semata sebagai wujud perjuangan dan Jihad Hidup kami sebagai manusia untuk selalu berbuat kebaikan pada siapapun, yang tujuan sematanya adalah karena Allah.
Kak Fadhila membuka diskusi kecil ini dengan sebuah opini tentang Tujuan Hidup Manusia. Beliau menegaskan ada Tiga hal pokok yang sangat fundamen, penting dan harus ada pada diri setiap manusia termasuk kami sebagai aktivis PII. Seharusnya sebagai umat Islam dari waktu ke waktu, dari lahir, hari ini dan yang akan datang, semakin menjadi umat yang beriman dan bertaqwa pada Allah. Bagaimana caranya?
Ada tiga hal pokok yang harus ada pada manusia, 3 hal tersebut antara lain: Tauhid, Fiqh dan Tasawuf. Pentingnya Tauhid ini adalah sebagai salah satu syarat rukun Islam sekaligus wujud rukun Iman yang pertama. Tidaklah manusia mengenal Tuhannya kalau ia sendiri tidak mengenal dirinya, maka keyakinan dan kepercayaan kita untuk semakin mengenal siapa tuhan kita ( Ma'rifatullah) adalah sebuah kewajiban untuk dipahami sebelum bertindak.
" Al Ilmu qobla qauli wa amal" Pemahaman dan ilmu dulu sebelum berkata dan beramal. Beginilah sejatinya kita manusia, jika sudah ikhtiar melakukan hal demikian, maka seorang perempuan tidak akan melepas jilbabnya ketika menginjak usia dewasa sebab dia tahu mengapa ia harus berjilbab. Kalau dia tidak tahu sebab mengapa ia diperintahkan untuk mengenakan jilbab maka tak salah jika kecil pake jilbab setelah dewasa dia lepaskan jilbabnya. Mengapa bisa terjadi demikian? Karena dia tidak tahu alasan dan pemahaman mengapa dia harus mengamalkan Jilbab.
Kedua, tindakan dan perbuatan manusia didunia itu diwujudkan dari Fiqh-Fiqh yang terdapat dalam AlQur'an, baik berupa perintah ataupun larangan Allah kepada Hambanya. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk memahami aturan dan perintah hidup yang terkandung didalam AlQuran dan Assunnah, Pendapat Para Ulama dan Fuqaha. Contohnya di Malaysia sendiri seorang perempuan yang tidak berjilbab yang ingin sholat didalam mesjid saja diatur secara tegas harus memakai jilbab masuk kedalam mesjid.
Nilai- Nilai, aturan dan Norma agama itulah yang sebenarnya diterapkan bukan karena galak, ganas bahkan keras. Tapi untuk menunjukkan ada ketegasan moral yang ada dalam aturan Islam, ketika dilaksanakan ya terus laksanakan, ketika perintahnya harus ditinggalkan terus ditingglkan, jangan coba- coba menawar. Ajaran kita ada yang bersifat tegas dan ada yang bersifat elastis, tergantung pada konteks fiqh yang kita amalkan.
Terakhir, Tasawuf sebagai pelengkap bangunan dasar (Foundation), haruslah berada ditengah-tengah, antara Tauhid dan Fiqh ini. Agar Manusia tidak melakukan perintah Allah sebagai ritual agama semata, meninggalkan perintah yang dilarang dan melaksanakan suatu perbuatan karena mengejar tujuan dunia saja. Tetapi manusia harus meletakkan ditengah-tengah hatinya nilai-nilai tasawuf, supaya dalam melaksanakan perintah agama mampu dipahami dan dimaknai sebagai penghambaan diri yang sebenar benar taqwa. Bentuk penghambaan manusia pada Tuhan yang telah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah fil ardi dan beribadah kepada Allah Swt. Sebagaimana firmanNya:
“WAMA KHALAQTUL JINNA WAL INSA ILLA LIYA’ BUDUUN”
Artinya :
“tidaklah di ciptakan Bangsa Jin dan Manusia kecuali Hanya Untuk Menyembah/beribadah kepada-Ku”
(QS.Addzariyat :56)
Jika manusia mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya, inilah prinsip hidup yang cocok dengan pesan diatas.
Dalam hidup ini Allah berikan satu kuasa yang namanya Pilihan. Dan dari pilihan manusia itu punya pilihan yang sudah dalam perencanaan Allah. Contohnya, kita pilih makan sunnatullah nya kita kenyang, jika kita pilih mandi maka sunnatullahnya basah.
Ingat, hidup ini ada takdir yang bisa dirubah, makanya dalam hidup diberi kuasa untuk memilih.
Berbeda sekali jikalau tujuan hidup berupa kesuksesan dunia semata, ingin kaya agar bisa menjadi penguasa, mendapatkan kedudukan dan popularitas, menikah untuk memperoleh keturunan dan warisan, agar cantik dilihat orang dan lain lain sebagainya. Semuanya akan terasa sia-sia dan melelahkan pada waktunya hingga sadar untuk apa dan apa yang sudah kita lakukan didunia?
Namun sebaliknya, jikalaulah semua tujuan hidup adalah akhirat, apapun itu akan dilalui dengan cara yang Allah Ridhoi.
Seperti kita membawa motor, ada batu dan lobang didepan, maka tidak akan membuat kita berbalik kebelakang ataupun berhenti. Namun, tetap Lanjutkan terus, jalani dan itulah hidup! Penyesalan hidup adalah suatu cara atau jalan untuk kita merefleksi diri, memuhasabah diri untuk menjadi lebih baik. Itu pentingnya ada idola, icon, agar kita bisa memandang orang lain untuk menjadi figure yang baik.
Agar kita bisa mengukur diri kita sudah sejauh mana kita berbuat baik, berjihad dan berdakwah didunia ini.
Monolog lah dengan hal-hal positif, kita perlu lingkungan yang baik, yang membantu jalan terus, saling beringan, penyesalan itu cukup dibelakang, tetap tata masa depan, jika ada problem dan konflik curhat dan mengadu pada Allah. Penyesalan bukanlah sesuatu hal yang harus terfikirkan, tapi suatu feed back pembelajaran untuk menjadi lebih baik.
Selama jalan terus, pasti kita akan menemukan orang-orang yang tak suka dengan yang kita lakukan, ini ujian dan bagian dari perjalan hidup masing-masing manusia, bahkan Rasululllah dalam dakwahnyapun ditolak oleh orang-orang terdekatnya, belum apa-apa dibanding yang kita rasakan hari ini. Ada masanya kita harus berbagi rasa dengan teman atau orang-orang yang dapat mengembalikan kita pada feed back positif.
Itulah Universitas Kehidupan:
Tempat kita belajar melalui proses hidup yang panjang untuk menjalani apa yang Allah perintahkan. "Fadhillah Ibrahim"

Komentar
Posting Komentar